Lendang Nangka adalah salah satu desa wisata potensial yang terletak di Pulau Lombok, tepatnya di kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perpaduan antara wisata alam, sosial, religi, dan kultur menciptakan sebuah harmoni yang tidak terlupakan. So, Let's Join Us to Enjoy Lendang Nangka Village, The Harmony Of Lombok.

UPACARA “NGAWINANG”, PERKAWINAN ADAT LOMBOK


Comments Off

Upacara perkawinan di Lombok Timur memiliki keunikan dibandingkan dengan upacara adat di tempat yang lainya, karena memiliki proses yang cukup panjang. Adat perkawinan lombok dikaitkan dengan upacara sorong serah aji krama. Seorang pemuda (terune) dapat memperoleh seorang istri berdasarkan adat dengan dua cara yaitu dengan soloh (meminang kepada keluarga si gadis). Yang kedua dengan adat merariq( melarikan si gadis), dimana pihak pria (terune) mengambil wanita (dedare) yang akan dinikahi ke rumah pihak pria tanpa sepengetahuan orang tuanya. Setelah salah satu cara sudah dilakukan, maka keluarga pria akan melakukan tata cara perkawinan sesuai dengan adat sasak. Proses ini kemudian akan diikuti dengan “Mesejati” dimana kepala dusun (keliang) akan memberitahukan kepada keluarga perempuan perihal dibawanya anak perempuan tersebut oleh seorang laki-laki yang tinggal di dusunnya.  Selang maksimal tiga hari kemudian, dilanjutkan dengan proses “beselabar” dimana kadus dan keluarga pihak laki-laki menemui keluarga pihak perempuan untuk meminta ijin melangsungkan upacara pernikahan. Pembicaraan adat istiadatnya meliputi aji kerama yang dalam proses ini dibicarakan tentang “uang perari” yang merupakan uang yang diminta oleh calon pengantin perempuan sebelum dilarikan. Jika belum ada permintaan “uang perari” sebelumnya, maka orang tua perempuan memintakan “uang perari” sekaligus “uang pisuke” yang dijadikan sebagai jaminan dan biaya penyelenggaraan pesta.


Jika semua permintaan keluarga pengantin perempuan telah disetujui pada saat “beselabar”, maka prosesi selanjutnya adalah “bait wali” dimana pihak pengantin laki-laki mengirimkan utusan dari pemuka agama untuk menyampaikan salam dari calon pengatin perempuan untuk orang tuanya agar datang untuk menikahkanya. Jika disetujui, maka orang tua perempuan akan datang sendiri dan keluarganya, namun jika tidak, maka orang tuanya menyerahkanya kepada utusan tersebut untuk menjadi wali nikah pengantin perempuan. Pada proses inilah kemudian dilangsungkan “ijab qabul”. Jika keseluruhan proses “bait wali” telah selesai, maka dilanjutkan dengan upacara “sorong serah”.

Acara Sorong Serah Aji Krame adalah salah satu acara paling penting dalam rangkaian upacara adat perkawinan sasak. Waktu  penyelenggaraan biasanya pada siang hari sesudah zuhur sebelum ashar yang di sebut Galeng Raraq Kembang Waru. Pada acara sorong serah ini pihak laki – laki mengirim rombongan yang terdiri dari 20 sampai 30 orang untuk mendatangi keluarga pihak perempuan dengan membawa harta benda yang dinamakan gegawan. Para pembawa gegawan dari pihak laki – laki biasa disebut penyorong sedangkan pihak perempuan yang menerima gegawan adalah penanggap. Upacara Sorong Serah Aji Krame sangat kaya dengan simbol – simbol yang tercermin baik dalam tata upacara maupun perlengkapan yang dibawa, berupa uang dan benda – benda simbolik lainnya. Kesemuanya itu diwujudkan dalam 8 komponen yaitu  1. Sesirah(dalam istilah Sasak di sebut Otak Dowe atau Juru Dowe yang berarti otak, kepala atau induk Aji Krame dan perangkat Sorong Serah lainya). 2.  Aji Krame (terdiri dari Napak Lemah dan olen – olen). 3. Sasuni Taring Urip (terdiri dari Salin Dedeng, Penjaruman dan Pemecat Sengkag). 4. Pikoliling Urip / Warga (terdiri dari Pelengkak dan Kao Tindok). 5. Pikoliling Desa (terdiri dari Babas Kuta, Krame Desa dan Kor Jiwa). 6. Kedosan ( Denda – denda ). 7. Pemegat  ( Pamungkas Wicara ). 8.Rombong  ( Simbol dukungan masyarakat agar mempelai mampu hidup mandiri). Di dalam proses sorong serah, dikenal dengan nama “bewacan” yang  merupakan debat dalam bahasa Bali antara utusan pengantin pria dengan keluarga pengantin perempuan. Setelah pihak rombongan pengantin pria dipersilahkan datang oleh keluarga perempuan, barulah keluarga mempelai laki-laki datang ke rumah keluarga perempuan disertai berbagai perlengkapan adat dan tata cara penyambutanya. Di dalam acara sorong serah ini dipertunjukkan kesenian khas Lombok yaitu “gendang belek” yang merupakan alat musik tradisional Lombok, namun iramanya hampir menyerupai irama lagu Bali.

Kebudayaan Lombok memiliki kedekatan kebudayaan dengan Bali, karena pernah di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Karangesem Bali pada tahun 1720 M. Upacara sorong serah  ini dapat dijadikan sebagai alternatif tujuan wisata karena menampilkan berbagai kesenian dan pakaian adat khas Lombok.

Comments

Comments are closed.